Selasa, 05 Desember 2017

2017 yang baru

2015. terakhir kali aku menyentuh blog ini.

Semesta! terimakasih karena memberiku kesempatan menulis apapun disini. aku harap kita tidak sama-sama bertambah brengsek.

Sekarang 2017, banyak sekali tentunya momen-momen yang terjadi.

Mulai dari putus dari pacar-ketemu yang baru-pacaran lagi-putus lagi. begitu seterusnya sampai pada saat ini dimana aku memutuskan untuk sendiri.

bukan itu yang mau aku ceritakan. ada yang jauh lebih penting dan sangat melekat.

Februari, 2017. aku kehilangan sosok yang paling penting dalam hidup; Papa.
Yaa, aku tau mungkin cerita ini sudah sangat sering untuk dikonsumsi telinga terkutuk kalian.

5 Oktober 2017, 3 hari menjelang ulang tahun Papa.
sudah tentu akan jadi momen yang baik untuk kami bukan? merayakan bersama, duduk mengelilingi meja makan, berbagi minuman soda dan tentunya beer kesukaan beliau.

Atau mungkin saja kami harus makan bebek goreng dan nasi panas sambil tertawa bersama karena aku pasti akan teriak-teriak kalau makan sambal buatan mama.

tapi tahun ini tidak, yang bisa kami lakukan hanya berdoa pada Tuhan kami masing-masing supaya Papa berbahagia dengan bertambah satu.

p.s Pa, disana ada nasi padang gak ya?

1801

Sudah bulan yang entah keberapa sejak kamu pergi dari kota ini.
Dan aku sendiri selalu berfikir bahwa mungkin 2 atau 3 tahun akan terasa cepat seperti pertemuan terakhir kita waktu itu.

Kamu tau kenapa aku selalu suka menyapamu di pagi hari?
Tentu saja jawabannya karena matahari terbit lalu tenggelam, terbit lagi dan begitu seterusnya.
Meyakinkanku bahwa kamu akan semakin dekat untuk ku raih.

Katamu aku harus super sabar, biar bisa jadi ibu dan istri yang baik.

"istri siapa? ibunya anaknya siapa?", tanyaku.
"ya ga tau lah. apa perlu kamu aku ramal?"

Dan tolong mengertilah bahwa aku selalu ingin menjadi milikmu.


Sabtu, 07 Oktober 2017

selamat ulang tahun!

8 Oktober 1956.

Entah saat itu pagi, siang atau malam, aku tidak tahu karena aku sama sekali tidak pernah menanyakannya pada uti maupun kakung. Yang aku tau dan satu-satunya hal yang cuma mau aku tau adalah hari itu adalah hari dimana seorang yang kuat dan pemberani telah lahir. Ya, Papa. Papaku. Yang pasti uti kakung beserta pakde dan bude bahagia saat itu. Siapa ga bahagia sih kalau anaknya lahir hahaha

Hari ini, ditanggal yang sama, 8 Oktober 2017. Dimana seharusnya Papa, merayakan ulang tahun sama mama mba ellen mba celin aku dan kanaya. Tapi ternyata kita harus ngerayainnya jauh-jauhan,Pa. gapapa. 

Masih inget ga, Pa? kalau kita jauh, hati kita selalu deket hahaha cie banget ya Pa!

Biasanya ya kita ngapain sih, Pa? bebek goreng? Atau mungkin nasi padang? Oh my God, makanan favoritmu memaksaku untuk menyukainya yang jadinya aku cinta sama mereka!

Masih dengan pertanyaan yang sama lho, Pa. disana ada gak sih bebek goreng? Atau setidaknya nasi padang dan kikil beserta antek-anteknya itu? 
Jangan lah Papa bilang kalau bosen makan tahu tempe. Aku percaya kok, kulkas milik Tuhan itu gede, iya kan? Pasti disana banyak pilihan makanan!

Hahaha harusnya ini jadi gong ulang tahun keluarga kita, tapi yaudah deh, adek cuma bisa berdoa buat Papa. Semoga kado dari Tuhan selalu indah ya Pa.


Selamat Ulang Tahun, my Love my Dad.

Jumat, 06 Februari 2015

fitrah seorang perempuan; kata teman.

"Semandiri apapun perempuan. Meski kemana-kemana sudah berani sendiri. Pulang larut malam berani. Membuat perjalanan jauh dengan percaya diri. Mendaki, bermain air, atau hal-hal bahaya lain. Dalam satu masa, akan ada perasaan ingin dilindungi.

Sekuat apapun dia, secara fitrahnya ia ingin dilindungi. Ingin menggantungkan diri pada sesuatu yang menurutnya lebih kuat. Bukan karena perempuan lemah, bukan pula karena dia tidak bisa. Tapi lebih kepada perasaannya sendiri. Ada rasa nyaman ketika dilindungi. Ada rasa nyaman ketika diperhatikan."

-kata seorang teman, Margareta Reni K.

Minggu, 01 Februari 2015

Minggu, 25 Januari 2015

...

Mom : Siapapun pilihanmu, bagaimanapun caramu. Berbahagialah. Tolong, berbahagialah. Angkat kepalamu, dan tatap dengan penuh kepastian apa yang ada didepan sana. Jika kamu tetap itik lalu dia pergi hanya karena tahu kenyataan itu, tenang saja. Masih ada yang lebih lagi di luar sana untukmu dan tidak akan pernah habis.

Minggu, 18 Januari 2015

3900.

Halo, semesta!

Hari ini berjalan seperti biasa. Tidak tau aku yang merasa biasa aja atau orang-orang yang biasa atau aku yang berbeda. Entah.

Sebenarnya, aku pengen hore-hore diluar, sama temen-temen dan orang lain, mau bernyanyi atau meminum sebotol beer dan disertai tawa renyah dari mereka. Namun, kusisihkan semua itu. Kuurungkan niatku untuk bahagia dengan cara itu.

Beberapa menit telah kurebahkan tubuh ini dikasur yang empuk, sembari melepas lelahku hari itu.

Kulirik tas kulit berwarna coklat, kotor, berdebu, dan jahitannya sudah sedikit rusak. Sengaja aku bongkar semua. Isinya biasa aja; charger hand phone, alat make up, parfume, dan satu barang yang paling vital; dompet!

Dompet coklat yang terbuat dari kulit, peninggalan dari nenekku itu; kuambil dan kubuka pelan-pelan karena aku takut dompet itu rusak. Aku keluarkan isinya; beberapa lembar nota, ktp, foto-foto, dan uang.

Sengaja kukeluarkan uang itu dan kuhitung.

'3ribu9ratusrupiah'
Uangku hanya tinggal 1 lembar 2ribu Dan beberapa keping receh yang totalnya ada 1900rupiah.

Entah kenapa pada saat itu aku gak begitu mikir dengan keadaan dompetku yang makin lama makin kurus.

Tak ada pula kegelisahan bagaimana membeli eyeliner, parfume, dan teman-temannya dengan uang yang jumlahnya hanya 3ribu9ratusrupiah.

Kumasukan kembali uangku itu kedalam dompet; dan tersenyum seakan tak ada beban.

Memang! Bagiku uang bukan segalanya, uang bukan sumber kebahagiaan.
Disini aku punya Ayah, Ibu, Kakakku, Sahabatku, Kekasihku. Mereka bisa jadi sumber bahagiaku.

Bahagialah aku, Bahagialah kamu, Bahagialah dia, Bahagialah kita, Bahagialah mereka, Bahagialah Semesta!

2017 yang baru

2015. terakhir kali aku menyentuh blog ini. Semesta! terimakasih karena memberiku kesempatan menulis apapun disini. aku harap kita tida...